Selasa, 20 Maret 2012

Rock and Roots Festival: The S.I.G.I.T vs Andre Harihandoyo

Rock and Roots Festival: The S.I.G.I.T vs Andre Harihandoyo

Yang satu jagoan rock dari Bandung. Satunya lagi duta blues dari Jakarta.Keduanya memiliki kualitas musik yang terbukti patut dipuji, dan keduanya sedang bersaing meraih satu spot pengisi acara di festival musik internasional Rock and Roots Festival.

Setelah hampir tiga minggu Yahoo! Indonesia membuka polling kepada pembaca untuk memilih satu dari sepuluh band terpilih untuk dikirim ke Singapura sebagai perwakilan Indonesia di Rock and Roots Festival, The S.I.G.I.T dan Andre Harihandoyo and Sonic People menempati dua posisi teratas secara bergantian. Band asal Bandung The S.I.G.I.T awalnya memimpin jauh selama lebih dari dua minggu, namun Andre Harihandoyo and Sonic People terus memepet hingga akhirnya melampaui jumlah vote The S.I.G.I.T pada Jumat (16/3).

Kedua band ini terbukti memiliki penggemar dengan jumlah besar (masing-masing band dipilih oleh lebih dari 3500 pembaca Yahoo!, dan sistem polling hanya mengizinkan satu akun Yahoo! untuk mem-vote satu kali), dan secara kualitas musik pun keduanya bisa disandingkan.

Sebelum proses voting ditutup hari Minggu, 18 Maret 2011 pukul 23.45, hanya keberuntungan dan dukungan penggemar yang bisa membawa band ini ke Singapura, membawa nama Indonesia. Mari ikut memilih dan menunjukkan pada publik Asia Tenggara bahwa Indonesia gudangnya band berkualitas.

Dengarkan musik The S.I.G.I.T di sini.

Dengarkan musik Andre Harihandoyo and Sonic People di sini.

Kemudian VOTE band pilihanmu di sini.

Cara Membuat Antena TV sendiri

Berikut adalah tutorial cara membuat antena TV tradisional, walaupun bersifat tradisional, tapi antena buatan anak negeri ini dapat mengalahkan antena yang harganya ratusan ribu rupiah. Waw! .

Dengan biaya pokok dibawah Rp.50.000,- kita dapat membuat sebuah antena tradisional yang hasilnya luar biasa!.
 Kelebihanya :
  • Ukuran tidak terlalu besar, sehingga tidak memakan space rumah.
  • Dipasang dibawah genteng, sehingga tidak gampang berkarat karena air hujan.
  • Hasil gambar memuaskan untuk semua channel.
  • Biaya murah meriah.
 Bahan -bahan yang dibutuhkan :
  • Seng nisplang atau seng biasa ukuran 1 meter. (Dapat dibeli di toko-toko material). Untuk yang menginginkan gambar lebih jernih, gunakan Alumunium foil (bukan seng).
  • Gunting seng.
  • Paku atau baut.
  • Obeng.
  • Palu.

  1. Potong seng seukuran gambar berikut (Ukuran tidak perlu presisi hingga milimeter).
  2. Pasang seng yang telah dipotong berdasarkan gambar berikut.
  3. Taruh atau pasang dibawah genteng atau tempat lainya.
    1. anten
  4.  Selesai 
  5. Sumber    http://webzonepslu.blogspot.com/l NB:
    1. koneksi kabel ke driver harus kencang, kalau bisa disolder. Koneksi yang tidak kencang mengkibatkan gambar semutan.

    2. Koneksi/pemasangan kabel pada konektor/jack juga harus benar dan kencang.

    3. Penggunaan Booster TIDAK WAJIB, kalau letak antena/rumah bagus yah mungkin tidak perlu pakai booster.

    4. Kalau mau dipasang di luar (outdoor), sebaiknya seng reflektor diganti dengan ram kawat atau seng diberi lubang banyak. Kalau ngga yah jadinya layangan  .

    Hal-hal yang menyebabkan penerimaan gambar buruk :

    1. Kualitas kabel antenna.

    2. Jangan lupa atur trimpot GAIN pada booster. Trimpot gain ini juga berpengaruh pada kejernihan/kekuatan sinyal, trimpot TIDAK mesti pada posisi maksimum gain. Pastikan anda tidak menggunakan booster abal-abal.

    3. Posisi dan ketinggian, geser setengah meter saja bisa beda banget hasilnya.

    4. Arah antenna, antena kupu-kupu ini bukan antenna segala arah (omnidirectional), tetap harus pada arah yang tepat.  

Jumat, 09 Maret 2012

3 Invasi Militer Indonesia ke Negara Lain Setelah Merdeka

Setelah merdeka indonesia dinilai memiliki kekuatan militer yang cukup kuat sebab pandangan politik luar negeri Indonesia pada era Soekarno lebih condong ke kiri dan anti barat, sehingga Uni Soviet yang merupakan negara komunis terbesar waktu itu memberikan sokongan dana dan peralatan militer secara besar besaran kepada Indonesia. Nah berikut ini ada 3 invasi militer yang pernah di lakukan Indonesia ke negara lain setelah Indonesia merdeka.  Mau tahu apa saja? Simak berikut ini:
1. Invasi Militer ke Timor Leste

Operasi Seroja adalah sandi untuk invasi Indonesia ke Timor Timur yang dimulai pada tanggal 7 Desember 1975. Pihak Indonesia menyerbu Timor Timur karena adanya desakan Amerika Serikat dan Australia yang menginginkan agar Fretilin yang berpaham komunisme tidak berkuasa di Timor Timur. Selain itu, serbuan Indonesia ke Timor Timur juga karena adanya kehendak dari sebagian rakyat Timor Timur yang ingin bersatu dengan Indonesia atas alasan etnik dan sejarah.
Angkatan Darat Indonesia mulai menyebrangi perbatasan dekat Atambua tanggal 17 Desember 1975 yang menandai awal Operasi Seroja. Sebelumnya, pesawat-pesawat Angkatan Udara RI sudah kerap menyatroni wilayah Timor Timur dan artileri Indonesia sudah sering menyapu wilayah Timor Timur. Kontak langsung pasukan Infantri dengan Fretilin pertama kali terjadi di Suai, 27 Desember 1975. Pertempuran terdahsyat terjadi di Baucau pada 18-29 September 1976. Walaupun TNI telah berhasil memasuki Dili pada awal Februari 1976, namun banyak pertempuran-pertempuran kecil maupun besar yang terjadi di seluruh pelosok Timor Timur antara Fretilin melawan pasukan TNI. Dalam pertempuran terakhir di Lospalos 1978, Fretilin mengalami kekalahan telak dan 3.000 pasukannya menyerah setelah dikepung oleh TNI berhari-hari. Operasi Seroja berakhir sepenuhnya pada tahun 1978 dengan hasil kekalahan Fretilin dan pengintegrasian Timor Timur ke dalam wilayah NKRI.
Selama operasi ini berlangsung, arus pengungsian warga Timor Timur ke wilayah Indonesia mencapai angka 100.000 orang. Korban berjatuhan dari pihak militer dan sipil. Warga sipil banyak digunakan sebagai tameng hidup oleh Fretilin sehingga korban yang berjatuhan dari sipil pun cukup banyak. Pihak Indonesia juga dituding sering melakukan pembantaian pada anggota Fretilin yang tertangkap selama Operasi Seroja berlangsung.
2. Invasi Militer ke Papua Barat
Operasi Trikora, juga disebut Pembebasan Irian Barat, adalah konflik 2 tahun yang dilancarkan Indonesia untuk menggabungkan wilayah Papua bagian barat. Pada tanggal 19 Desember 1961, Soekarno (Presiden Indonesia) mengumumkan pelaksanaan Trikora di Alun-alun Utara Yogyakarta. Soekarno juga membentuk Komando Mandala. Mayor Jenderal Soeharto diangkat sebagai panglima. Tugas komando ini adalah merencanakan, mempersiapkan, dan menyelenggarakan operasi militer untuk menggabungkan Papua bagian barat dengan Indonesia.
Pertempuran Laut Aru pecah pada tanggal 15 Januari 1962, ketika 3 kapal milik Indonesia yaitu KRI Macan Kumbang, KRI Macan Tutul yang membawa Komodor Yos Sudarso, dan KRI Harimau yang dinaiki Kolonel Sudomo, Kolonel Mursyid, dan Kapten Tondomulyo, berpatroli pada posisi 4°49′ LS dan 135°02′ BT. Menjelang pukul 21:00 WIT, Kolonel Mursyid melihat tanda di radar bahwa di depan lintasan 3 kapal itu, terdapat 2 kapal di sebelah kanan dan sebelah kiri. Tanda itu tidak bergerak, dimana berarti kapal itu sedang berhenti. Ketika 3 KRI melanjutkan laju mereka, tiba-tiba suara pesawat jenis Neptune yang sedang mendekat terdengar dan menghujani KRI itu dengan bom dan peluru yang tergantung pada parasut. Kapal Belanda menembakan tembakan peringatan yang jatuh di dekat KRI Harimau.
Kolonel Sudomo memerintahkan untuk memberikan tembakan balasan, namun tidak mengenai sasaran. Akhirnya, Yos Sudarso memerintahkan untuk mundur, namun kendali KRI Macan Tutul macet, sehingga kapal itu terus membelok ke kanan. Kapal Belanda mengira itu merupakan manuver berputar untuk menyerang, sehingga kapal itu langsung menembaki KRI Macan Tutul. Komodor Yos Sudarso gugur pada pertempuran ini setelah menyerukan pesan terakhirnya yang terkenal, “Kobarkan semangat pertempuran”.

KRI Irian, Kapal perang terbesar yang pernah di miliki indonesia (hanya ada 3 di dunia, 2 di uni soviet 1 di Indonesia), kapal perang raksasa ini juga ambil bagian dalam operasi Trikora dalam pembebasan papua barat
Pasukan Indonesia di bawah pimpinan Mayjen Soeharto melakukan operasi infiltrasi udara dengan menerjunkan penerbang menembus radar Belanda. Mereka diterjunkan di daerah pedalaman Papua bagian barat. Penerjunan tersebut menggunakan pesawat angkut Indonesia, namun operasi ini hanya mengandalkan faktor pendadakan, sehingga operasi ini dilakukan pada malam hari. TNI Angkatan Laut kemudian mempersiapkan Operasi Jayawijaya yang merupakan operasi militer terbesar dalam sejarah Indonesia. Lebih dari 100 kapal perang, ribuan artileri berat termasuk 300an tank dan 16.000 prajurit disiapkan dalam operasi tersebut.
Sialnya sebelum Indonesia sempat menyerang papua barat pesawat mata-mata Amerika berhasil memotret konsentrasi militer sangat besar di laut ambon, Amerika yang khawatiran bahwa pihak komunis akan mengambil keuntungan dalam konfik ini dan kemungkinan lain yang lebih besar yaitu perang dunia 3 karena saat itu Indonesia disokong besar-besar dibidang militer oleh Uni Soviet yang menjadi musuh bebuyutan Amerika yang membela Belanda, Sehari kemudian Amerika Serikat mendesak Belanda untuk berunding dengan Indonesia. Karena usaha ini, tercapailah persetujuan New York pada tanggal 15 Agustus 1962. Pemerintah Australia yang awalnya mendukung kemerdekaan Papua, juga mengubah pendiriannya, dan mendukung penggabungan dengan Indonesia atas desakan AS.
3. Invasi Militer ke Malaysia
Pada 20 Januari 1963, Menteri Luar Negeri Indonesia Soebandrio mengumumkan bahwa Indonesia mengambil sikap bermusuhan terhadap Malaysia. Pada 12 April, sukarelawan Indonesia (sepertinya pasukan militer tidak resmi) mulai memasuki Sarawak dan Sabah untuk menyebar propaganda dan melaksanakan penyerangan dan sabotase. Tanggal 3 Mei 1963 di sebuah rapat raksasa yang digelar di Jakarta, Presiden Sukarno mengumumkan perintah Dwi Komando Rakyat (Dwikora) yang isinya: Pertinggi ketahanan revolusi Indonesia, Bantu perjuangan revolusioner rakyat Malaya, Singapura, Sarawak dan Sabah, untuk menghancurkan Malaysia
Di bulan Agustus, enam belas agen bersenjata Indonesia ditangkap di Johor. Aktivitas Angkatan Bersenjata Indonesia di perbatasan juga meningkat. Tentera Laut DiRaja Malaysia mengerahkan pasukannya untuk mempertahankan Malaysia. Tentera Malaysia hanya sedikit saja yang diturunkan dan harus bergantung pada pos perbatasan dan pengawasan unit komando. Misi utama mereka adalah untuk mencegah masuknya pasukan Indonesia ke Malaysia. Sebagian besar pihak yang terlibat konflik senjata dengan Indonesia adalah Inggris dan Australia, terutama pasukan khusus mereka yaitu Special Air Service(SAS). Tercatat sekitar 2000 pasukan Indonesia tewas dan 200 pasukan Inggris/Australia (SAS) juga tewas setelah bertempur di belantara kalimantan (Majalah Angkasa Edisi 2006).
Pada 17 Agustus pasukan terjun payung mendarat di pantai barat daya Johor dan mencoba membentuk pasukan gerilya. Pada 2 September 1964 pasukan terjun payung didaratkan di Labis, Johor. Pada 29 Oktober, 52 tentara mendarat di Pontian di perbatasan Johor-Malaka dan membunuh pasukan Resimen Askar Melayu DiRaja dan Selandia Baru dan menumpas juga Pasukan Gerak Umum Kepolisian Kerajaan Malaysia di Batu 20, Muar, Johor.
Ketika PBB menerima Malaysia sebagai anggota tidak tetap. Sukarno menarik Indonesia dari PBB pada tanggal 20 Januari 1965. Pada pertengahan 1965, Indonesia mulai menggunakan pasukan resminya. Pada 28 Juni, mereka menyeberangi perbatasan masuk ke timur Pulau Sebatik dekat Tawau, Sabah dan berhadapan dengan Resimen Askar Melayu Di Raja dan Kepolisian North Borneo Armed Constabulary.
Pada 1 Juli 1965, militer Indonesia yang berkekuatan kurang lebih 5000 orang melabrak pangkalan Angkatan Laut Malaysia di Semporna. Serangan dan pengepungan terus dilakukan hingga 8 September namun gagal. Peristiwa ini dikenal dengan “Pengepungan 68 Hari” oleh warga Malaysia. Menjelang akhir 1965, Jendral Soeharto memegang kekuasaan di Indonesia setelah berlangsungnya G30S. Oleh karena konflik domestik ini, keinginan Indonesia untuk meneruskan perang dengan Malaysia menjadi berkurang dan peperangan pun mereda.
Pada 28 Mei 1966 di sebuah konferensi di Bangkok, Kerajaan Malaysia dan pemerintah Indonesia mengumumkan penyelesaian konflik. Kekerasan berakhir bulan Juni, dan perjanjian perdamaian ditandatangani pada 11 Agustus dan diresmikan dua hari kemudian. 


 http://menujuhijau.blogspot.com/2012/03/3-invasi-militer-indonesia-ke-negara.html#ixzz1ofUPtj7h

Rabu, 08 Februari 2012

Nasionalisme Ane Bangkit Waktu Lihat Ini ...

Ane Gak Bisa Nahan Air Mata Waktu Lihat Ini Gan 
replika tandu Pak Dirman



Beliau - dalam keadaan sakit parah, paru2 tinggal sebelah - tetap memaksakan diri bergerilya melawan Belanda. Bukan materi yg beliau kejar, bukan gaji besar, bukan fasilitas. Beliau bahkan tidak digaji. Presiden sudah ditangkap Belanda dalam Agresi Militer Belanda ke-2. Beliau jual perhiasan istrinya untuk modal berjuang, berpindah dari hutan ke hutan, dengan kondisi medan yg sangat berat, dibayang2i pengejaran tentara Belanda lewat darat dan udara.

Pak Dirman -dalam keadaan sakit parah digerogoti TBC & paru2 tinggal satu- memimpin perang gerilya dari atas tandu.


Inilah para gerilyawan yg beliau pimpin, berjuang keluar masuk hutan naik turun gunung demi kita anak cucu mereka. 


Berjuang dengan persenjataan seadanya.....

Di tengah kondisi kesehatan beliau yg makin mengkhawatirkan itu, banyak pihak yg menyarankan agar beliau berhenti bergerilya, namun semangat juang beliau tak dapat dipatahkan oleh siapapun juga. 
"Yang sakit itu Sudirman...Panglima Besar tidak pernah sakit," begitu jawaban beliau.
Beliau terus gigih berjuang, tidak peduli lagi keselamatan dirinya. Bagi beliau, lebih baik hancur dan mati daripada tetap dijajah. 

Berkat perjuangan yg tak kenal menyerah itulah, Belanda kewalahan secara militer. Kekuatan gerilya Pak Dirman luar biasa. Belanda hanya mampu menguasai perkotaan, sedangkan di luar itu, sudah masuk wilayah gerilya tentara dan pejuang kita. Di sisi lain, tekanan diplomatis terhadap Belanda juga bertubi2, karena dunia internasional melihat bahwa dengan eksistensi TNI yg ditunjukkan oleh Pak Dirman membuktikan bahwa Republik Indonesia itu ada, dan bukan sekedar kumpulan gerombolan ekstrimis seperti yg santer dipropagandakan Belanda.

Akhirnya, Belanda pun benar2 angkat tangan, dan terpaksa mengajak RI untuk berunding kembali.Perjanjian Roem Royen pun terwujud pada tanggal 7 Mei 1949, dimana Indonesia & Belanda sepakat untuk mengakhiri permusuhan. Presiden pun telah dibebaskan oleh Belanda dan dikembalikan ke ibukota negara, waktu itu masih Yogyakarta. Namun ini masih belum final dan Pak Dirman tetap belum yakin dengan hasil perjanjian itu. Beliau tetap bersikeras melanjutkan perjuangan sampai seluruh tentara Belanda benar2 hengkang dari tanah air. 

Akhirnya Sri Sultan Hamengkubuwono IX meminta kepada Kolonel Gatot Soebroto untuk menulis surat kepada Pak Dirman agar bersedia kembali ke ibukota. Berikut adalah penggalan surat Kolonel Gatot Soebroto yang meminta Pak Dirman untuk berhenti bergerilya dan beristirahat (di-EYD-kan):


"...tidak asing lagi bagi saya, tentu saya juga mempunyai pendirian begitu. Semua-semuanya Tuhan yang menentukan, tetapi sebagai manusia diharuskan ikhtiar. Begitu pula dengan keadaan adikku, karena kesehatannya terganggu harus ikhtiar, mengaso sungguh-sungguh, jangan mengalih apa-apa. Laat alles waaien.

Ini bukan supaya jangan mati konyol, tetapi supaya cita-cita adik tercapai. Meskipun buah-buahnya kita tidak turut memetik, melihat pohonnya subur, kita merasa gembira dan mengucapkan banyak terimakasih kepada Yang Maha Kuasa.

Ini kali saya selaku Saudara tua dari adik minta ditaati..."
Pak Dirman pun akhirnya luluh. Bagaimanapun, perjuangan adalah jalan beliau, dan kini beliau menyadari, bahwa hasil perjuangan itu sudah mendekati akhirnya. 

Sebagai persiapan pulangnya Pak Dirman ke ibukota, Sri Sultan pun mengirimkan pakaian kebesaran. Namun dengan halus & bijaksana, kiriman itu beliau tolak. Pak Dirman memilih datang sebagaimana adanya sebagaimana ketika meninggalkan ibukota untuk bergerilya, dengan segala kekurangan & penderitaan. 

Beliau datang dengan tandu, dikawal banyak sekali anak buah yg mencintai beliau. Setibanya di Gedung Agung, Presiden Soekarno langsung menyambut & merangkul beliau. 


Bung Karno merangkul Pak Dirman yg akhirnya tiba kembali di ibukota negara setelah berbulan2 bergerilya keluar masuk hutan. Bung Karno sendiri tidak tahan melihat kondisi Pak Dirman yang tampak kurus dan sangat lusuh...

Perundingan pun berlanjut kepada Konferensi Meja Bundar. Puncaknya, tidak lama berselang, Belanda terpaksa mengakui kedaulatan RI pada tanggal 27 Desember 1949, dan benar2 hengkang dari ibu pertiwi.


Pengakuan Kedaulatan RI oleh Belanda, 27 Desember 1949, yg merupakan hasil jerih payah perjuangan Pak Dirman

Sayang sekali, seakan2 senada dengan ucapan Pak Gatot Soebroto yg dibold di atas, Pak Dirman sepertinya memang ditakdirkan hanya untuk berjuang, bukan untuk menikmati kemerdekaan yg telah beliau perjuangkan. Beliau wafat dalam sakit beliau pada tanggal 29 Januari 1950, hanya berselang 1 bulan setelah pengakuan kedaulatan RI. 



Pemakaman Pak Dirman, 29 Januari 1950, hanya 1 bulan berselang setelah Pengakuan Kedaulatan RI--
Apa yg ingin ane sampaikan gini gan:



Pak Dirman
kami anak cucumu yang dulu engkau perjuangkan
kami anak cucumu yang dulu engkau bela mati-matian
kini hidup dalam negeri Indonesia yang merdeka
kami dapat belajar, bekerja dan bersenang-senang dengan tenang
karena kita sudah merdeka

Dulu, engkau rela dan gigih berjuang
tak pedulikan nyawamu, tak pedulikan kesehatanmu
hanya agar kami anak cucumu ini
bisa hidup dalam alam kemerdekaan

Kini

walaupun namamu diabadikan
menjadi nama jalan protokol di seluruh Indonesia

walaupun patungmu ditegakkan dimana-mana
(dan aku yakin engkau tak suka ini)

walaupun namamu tertera di seluruh buku sejarah

Tapi
pastilah bukan itu yang engkau inginkan
terpikir dalam benakmu pun tidak
karena kita semua mengenalmu
mengenal sosok yang sangat sederhana
yang sangat tidak menyukai pujian

Yang engkau inginkan dari kami adalah
agar kami mengisi kemerdekaan yang telah engkau perjuangkan ini
sesuai dengan teladanmu
yakni ketulusan, kejujuran, dan semangat juang yang tak kunjung padam

Kami yakin
di alam sana, engkau prihatin melihat kondisi bangsa ini
banyak penerusmu yang tidak tulus, tidak jujur, dan lemah
sungguh, sudah seharusnya lah
mereka mengambil teladan darimu

Terimakasih Pak Dirman
atas segala pengorbananmu dan teladanmu
Kami anak cucumu
akan mencoba menjadi yang lebih baik

Walaupun mungkin kami tak akan pernah bisa seperti Bapak
namun mudah-mudahan
Bapak tetap bisa bangga terhadap kami


Spoiler for Siapa itu Pak Dirman?

Jujur, ane sangat sedih kalau ada agan yg bertanya demikian. Beliau adalah Panglima Besar Jenderal Sudirman, panglima pertama Tentara Nasional Indonesia. Silakan mampir kehttp://id.wikipedia.org/wiki/Soedirman untuk sekedar membaca ringkasan riwayat hidup beliau.

Beberapa foto kenangan semasa beliau hidup:


Walaupun kurus kering digerogoti TBC, beliau tetap teguh menjalankan tugas dan amanat sebagai Panglima Besar Tentara.


Beliau adalah sosok yg sangat sederhana, rendah hati & murah senyum, namun sangat disegani oleh kawan & lawan.


Spoiler for Sejauh apa rute gerilya yang beliau jalani?

Sangat jauh, bahkan bagi orang sehat sekalipun. Medan yang dilalui pun sangat berat, antara lain perbukitan dan gunung2 karang yang curam dan minim air.

Jenderal Sudirman & pasukannya melewati daerah membentang antara Yogyakarta, Panggang, Wonosari, Pracimantoro, Wonogiri, Purwantoro, Ponorogo, Sambit, Trenggalek, Bendorejo, Tulungagung, Kediri, Bajulan, Girimarto, Warungbung, Gunungtukul, Trenggalek (lagi), Panggul, Wonokarto dan Sobo (memimpin gerilya selama 3 bulan, 28 hari). Baru kemudian dari Sobo menuju Yogyakarta melewati Baturetno, Gajahmungkur, Pulo, Ponjong, Piyungan, Prambanan dan baru pada tanggal 10 Juli 1949 kembali lagi ke Yogyakarta. Dalam keadaan yang serba kekurangan & kondisi fisik yang lemah Jenderal Sudirman terus & terus berjuang tanpa kenal menyerah.

Perang gerilya yg dipimpin Jenderal Soedirman telah menjadi inspirasi sejarah Indonesia serta sumber pelajaran bagi perjalanan generasi sesudahnya, sekaligus gambaran nilai & semangat luhur perjuangan kemerdekaan Indonesia. 




Nasehat-nasehat Pak Dirman yang diabadikan dalam bentuk monumen.


Presiden SBY meninjau Museum Soedirman, usai meresmikan Kawasan Sejarah Panglima Besar Jenderal Soedirman, di Pakis Baru, Pacitan, Jatim.

---
http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3553952 


Last edited by mey2005; 25-04-2011 at 12:15 PM..