Arsip Blog

Sabtu, 08 Januari 2011

Ketika Perempuan Diam, Bacalah Keinginannya



Oleh Hermawan Kartajaya (Founder & CEO, MarkPlus, Inc) Bersama Putu Ikawaisa Mahatrisni (Senior Research Executive, MarkPlus Insight) KOMPAS.com - Pernahkah anda sadari berapa kali saat anda bertanya pada teman perempuan anda mengenai keadaan mereka, saat muka mereka sedang sedih atau tidak enak namun jawaban yang anda peroleh adalah ‘ngga apa-apa’ atau ‘baik-baik saja’? Padahal saat itu jelas-jelas anda melihatnya bermuka sedih atau masam.

Seringkali bagi pria, hal ini dilewatkan hanya dengan reaksi ‘oh, Ok kalau begitu’ dan berlalu begitu saja. Selanjutnya apakah kemudian teman perempuan anda mendiamkan anda untuk waktu yang lama dan bahkan yang lebih ekstrim lagi menjadi luar biasa marah karena menganggap anda tidak perhatian? Saya yakin jawabannya pasti seringkali hal-hal ini anda alami, terutama bagi pria.

Ketika perempuan sedang menghadapi masalah dengan kecenderungan diam, biasanya mereka akan sangat senang ketika ada yang memberikan perhatian untuk sekedar bertanya bagaimana keadaan mereka. Bertanya tetap merupakan ide yang baik namun ketika dijawab tidak ada masalah sebaiknya anda tidak berlalu begitu saja, perempuan ingin ditanyakan lebih lanjut mengapa mereka tidak sedang dalam kondisi baik atau mengapa wajah mereka cerah.

Bagi perempuan diam tidak berarti mereka memerlukan waktunya sendiri, perhatian dari sekitar akan menjadi obat yang mujarab. Bagi perempuan langsung bercerita mengenai masalahnya pada orang lain kadang-kadang menjadi gengsi tersendiri, apalagi untuk perempuan modern yang seringkali memiliki self esteem yang tinggi sehingga mereka tidak ingin dikatakan sebagai perempuan lemah. Selain itu dengan berkeluh kesah, ada kekhawatiran bahwa mereka akan memberatkan orang lain.

Bagi kebanyakan orang terutama pria, pasti akan berpikir bagaimana caranya kita tahu keinginan perempuan jika mereka tidak mengatakannya. Padahal perempuan itu jelas adalah perempuan terdekat dan dikenal baik oleh mereka, bagaimana jika perempuan itu adalah konsumen kita. Apakah kita harus punya kemampuan telepati hanya untuk memahami semua perempuan. Memahami satu perempuan saja akan sangat susah, apalagi jika konsumen kita semua perempuan. Bayangkan anda harus membaca keinginan banyak perempuan yang menjadi konsumen anda.

No one can understand women, beberapa pria langsung memberikan pernyataan ini jika mereka diminta untuk memahami perempuan. Kemauan untuk memahami perempuan tentu saja menjadi hal yang pertama kali harus dilakukan. Begitu banyak perempuan tentu banyak keinginan terpendam atau unspoken needs. Bagi perempuan jika ada pemilik merek yang mampu membaca keinginan terdalam mereka apapun akan mereka lakukan untuk membela merek tersebut.

Dalam satu focus group discussion terhadap sejumlah perempuan, diketahui bahwa perempuan ingin sekali pasangannya memahami mereka tanpa mereka perlu mengatakannya. Alasan yang dikemukakan ketika ditanya bagaimana pasangannya tahu keinginan tersebut jika tidak disebutkan ternyata jawabannya adalah mereka menyukai factor kejutan yang muncul karena apa yang diinginkan oleh mereka diketahui dan perempuan menjadi sangat istimewa karenanya. Namun perempuan juga mau ditanya jika kita belum bisa memahami mereka dalam ke’diam’an tersebut.

Pasti sangat tidak mudah untuk memahami perempuan hanya dengan membaca wajah mereka. Maka bertanyalah kepada mereka dan berikan empati tidak menginterogasi mereka dengan pertanyaan yang memaksa. Bagi perempuan ketika mereka memiliki keinginan terpendam terutama terkait masalah atau apapun maka diperlukan pertanyaan yang bernada empati, jangan sampai ketika mereka menjawab tidak ada masalah apapu padahal anda tahu dari ekspresinya mereka tidak puas, maka jangan cepat berpuas diri dengan mengatakan bahwa mereka puas. Bisa-bisa anda akan mendapatkan bonus rekomendasi negative yang sangat besar karena tidak memberikan empati.

Ketika berempati pun, tempatkan anda sebagai pendengar yang baik dan ajukan pertanyaan bernada empati kepada perempuan, akan jauh lebih istimewa lagi jika anda berhasil mengidentifikasi kemauan mereka dan mewujudkan keinginan mereka. Hal ini akan memberikan efek yang luar biasa, karena mereka akan merasa dipahami dan disayang. Ketika perempuan merasa di sayang maka efeknya adalah mereka akan dengan senang hati menyayangi produk dan merek anda bahkan rela menjadi evangelist-nya.

Pada intinya adalah tanyalah perempuan ketika mereka mengalami perubahan sikap berikan empati sehingga mereka merasa dekat dengan kita. Gunakan sebagai media untuk memupuk kepercayaan mereka, maka dapatkan manfaatnya dan bonusnya.

------------------- Artikel ini ditulis berdasarkan analisa hasil riset sindikasi terhadap hampir 1301 responden perempuan di 8 kota besar di Indonesia, SES A-D, Usia 16-50 tahun, yang dilakukan bulan Mei - Juni 2010 oleh MarkPlus Insight berkerjasama dengan Komunitas Marketeers. Tulisan 48 dari 100 dalam rangka MarkPlus Conference 2011 “Grow With the Next Marketing” Jakarta, 16 Desember 2010, yang juga didukung oleh Kompas.com dan www.the-marketeers.com

sumber : http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/12/12/21272016/Ketika.Perempuan.Diam..Bacalah.Keinginannya-14

Tidak ada komentar:

Posting Komentar